Nama Resmi : Kabupaten Aceh Jaya
Ibukota : Calang,Krueng Sabee
Luas Wilayah : 3.727 km²
Jumlah Penduduk : 86.601 (thn 2000)
Wilayah Administrasi : Kecamatan : 6, Desa : 164
Bupati : Ir Azhar Abdurrahman
Wakil Bupati : Tgk Zamzami A Rani
Alamat Kantor : Jl. Pertiwi No 03, Calang - Aceh Jaya
Telp : 0542.594706 , Fax : 0542.594706
Website : www.acehjayakab.go.id
Ibukota : Calang,Krueng Sabee
Luas Wilayah : 3.727 km²
Jumlah Penduduk : 86.601 (thn 2000)
Wilayah Administrasi : Kecamatan : 6, Desa : 164
Bupati : Ir Azhar Abdurrahman
Wakil Bupati : Tgk Zamzami A Rani
Alamat Kantor : Jl. Pertiwi No 03, Calang - Aceh Jaya
Telp : 0542.594706 , Fax : 0542.594706
Website : www.acehjayakab.go.id
SEJARAH
Aceh
Jaya adalah kabupaten yang terletak pada koordinat geografis 04°22’
-05°16’ LU dan 95°02’ – 96°03’ BT, radius hanya beberapa mil laut dari
titik episetrum gempa di dasar Samudera Hindia yang menimbulkan histeria
dunia pada 26 Desember 2004 silam.
Fenomena
alam tidak lazim yang menggulung dan membenamkan beberapa negara di
kawasan Asia, semenanjung pantai barat Sumatera terutama Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam tersebut akan dikenang sepanjang masa, dan
sejarah telah mentakdirkan Kabupaten Aceh Jaya yang terbentuk pada
tanggal 22 Juli 2002 ini sebagai daerah yang paling mengenaskan terkena
guncangan gempa tektonik berskala 9.0 skala richter disusul terjangan
gelombang pasang tsunami berkekuatan raksasa. Paska musibah tersebut,
Aceh Jaya menjadi sangat identik dengan tsunami.
KARENA
berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, Pesisir aceh bagian barat
kerap dipuji memiliki kawasan pantai terindah di seluruh Aceh. Sejak
abad ke-18 tersohor sebagai persinggahan kapal pengangkut lada dari
Amerika. Dalam buku The Contest for North Sumatra: Atjeh, the
Netherlands and Britain, 1858-1898 (1969), Anthony Reid mencatat bahwa
pada tahun 1820, lada dari beberapa pelabuhan di Aceh Barat, seperti
Patek, Rigah, Calang, Teunom, dan Meulaboh, menjadi komoditas terkenal
di Massachusetts, Amerika Serikat.Kini, semua itu tinggal kenangan.
Bencana alam seperti gelombang pasang, hujan deras plus angin ribut yang
sering menyebabkan banjir, longsor, dan putusnya sarana transportasi
dan komunikasi seolah tak pernah lepas dari daerah ini. Bencana besar
yang pernah tercatat antara lain tahun 1962, 1978, 1992, Agustus 1999
dan terakhir Desember 2004.
Di awal era 1990-an wisatawan asing banyak berdatangan ke Aceh Jaya yang saat itu tergabung dalam Kabupaten Aceh Barat. Mereka berselancar, menyelam, dan menikmati keindahan laut di pantai yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Garis pantai di Kabupaten Aceh Jaya sepanjang 135 kilometer. Animo turis asing kala itu sangat tinggi terhadap keindahan laut daerah ini.
Di awal era 1990-an wisatawan asing banyak berdatangan ke Aceh Jaya yang saat itu tergabung dalam Kabupaten Aceh Barat. Mereka berselancar, menyelam, dan menikmati keindahan laut di pantai yang berbatasan dengan Samudra Hindia. Garis pantai di Kabupaten Aceh Jaya sepanjang 135 kilometer. Animo turis asing kala itu sangat tinggi terhadap keindahan laut daerah ini.
Tempat
peristirahatan pun dibangun melengkapi kebutuhan wisatawan. Di Kuala
Dou, Kecamatan Setia Bakti, seorang arsitektur asing membangun
pondok-pondok wisata khusus untuk wisatawan asing. Uniknya,
pondok-pondok itu dibangun tidak saja di atas fondasi tanah, tetapi juga
di atas pohon. Namun, kondisi keamanan yang kian mengkhawatirkan dengan
meningkatnya aksi senjata antara GAM dan TNI membuat pariwisata di
daerah ini mati suri. Turis enggan datang dan tempat peristirahatan itu
pun menjadi sepi dan terbengkalai.
Selain
potensi wisata bahari, berbatasan dengan Samudra Hindia tentu saja
memberi keuntungan lain bagi daerah ini, yaitu terbukanya lapangan usaha
penangkapan ikan. Produksi perikanan laut rata-rata 12.000 ton per
tahun yang diusahakan oleh sekitar 10.560 nelayan. Hasil ini sebagian
besar dikonsumsi penduduk lokal. Hanya sekitar sepertiga yang diserap
konsumen lain setelah dikirim ke Medan.
Kemampuan
menangkap ikan nelayan Aceh Jaya belum optimal. Perahu yang sederhana
membuat kemampuan melaut paling jauh sekitar 10 mil laut. Alat tangkap
ikan pun masih sederhana, hanya mampu menangkap ikan ukuran kecil
seperti ikan kembung, kakap, atau tongkol. Perairan tempat menjaring
ikan pun terkadang dikuasai oleh nelayan asing dari Thailand yang
dianggap memiliki peralatan lebih modern.
Keterbatasan
lain dalam memanfaatkan sektor perikanan laut masih harus dihadapi oleh
para nelayan. Keterbatasan itu antara lain ketiadaan tempat pelelangan
ikan (TPI) yang lengkap dengan fasilitasnya, ketiadaan tempat pendingin
(cold storage), dan pelabuhan samudra atau pelabuhan ekspor untuk
memasarkan langsung hasil-hasil laut. Selama ini pemasaran ikan beku,
juga hasil bumi lainnya, dilakukan dengan mengirim ke Medan.
Mata
pencarian penduduk Aceh Jaya tidak hanya bergantung pada laut. Hasil
tangkapan dari laut diakui belum bisa menambah pendapatan keluarga,
hanya membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar
perekonomian daerah bertumpu pada pertanian, terutama menyediakan
kebutuhan pangan penduduk lokal.
Lahan
pertanian di sini banyak ditanami padi. Luasnya 18.293 hektar dan
menghasilkan tak kurang 65.000 ton padi (2003). Areal lainnya sekitar
1.426 hektar ditanami kacang-kacangan, jagung, ketela, sayur, dan
hortikultura lainnya.
Secara
umum, kegiatan pertanian menguasai 71,4 persen total perekonomian
daerah Rp 302,2 miliar. Di antaranya 28 persen bersumber dari tanaman
pangan, sedangkan perikanan baru berperan lima persen.
Selain
ladang dan persawahan, lahan perkebunan banyak dijumpai di daerah ini.
Tanaman karet, kelapa sawit, kopi, kelapa, dan kakao memenuhi areal
tersebut dan menjadi komoditas andalan. Tanaman karet menghampar di
lahan 7.717 hektar dan menghasilkan 5.811 ton tahun 2003. Dari segi
produksi, komoditas yang banyak menghasilkan adalah kelapa sawit.
Penduduk menggarap areal kelapa sawit 4.999 hektar menghasilkan 24.258
ton tandan buah segar (TBS). Sekitar 2.200 rumah tangga memiliki kebun
kelapa sawit, masingmasing 2-5 hektar. Selain perkebunan yang diusahakan
rakyat, terdapat tiga perusahaan swasta yang mengelola 1.818 hektar
kelapa sawit dan menghasilkan 1.100 ton TBS.
Produksi
kelapa sawit belum dapat langsung diolah menjadi minyak sawit mentah
(crude palm oil/CPO). Ini disebabkan belum ada pabrik pengolahan CPO.
Jadi, kelapa sawit dijual ke penampung yang membawanya ke daerah lain
yang memiliki pabrik CPO seperti ke Langsa dan Meulaboh.
Meski
belum memiliki pabrik pengolahan CPO, potensi pengembangan tanaman
perkebunan, khususnya kelapa sawit, terbuka lebar. Aceh Jaya memiliki
potensi lahan perkebunan 49.355 hektar. Dari luas ini 23.827 hektar yang
sudah dimanfaatkan. Lahan cadangan perkebunan bisa diperoleh dari
hutan, terutama dari pemberdayaan lahan kritis.
Potensi
kehutanan kabupaten ini 341.353 hektar. Luas lahan kritis 58.635
hektar, sedangkan hutan produksi 200.244 hektar. Sayangnya, penebangan
kayu oleh tiga perusahaan yang mendapat hak pengusahaan hutan 190.504
hektar tak berjalan karena faktor keamanan. Penebangan untuk mencukupi
kebutuhan kayu daerah dilakukan pengusaha yang memiliki izin pemanfaatan
kayu di atas areal 1.000 hektar.
Banyak
lapangan usaha yang belum tergarap optimal dan perlu perhatian
investor. Sektor pertambangan seperti batu bara, semen, bauksit, dan
batu granit belum tergarap.
Sektor
industri pengolahan menjadi lapangan usaha yang semestinya mulai
dikembangkan, melihat produksi sektor perkebunan, kehutanan, dan
pertanian umumnya cukup berlimpah dan bisa ditingkatkan. Setidaknya ada
kelapa sawit, karet, dan kayu yang bisa diolah. Selama ini industri
pengolahan hanya menyumbang sekitar empat persen pada keseluruhan
perekonomian daerah dengan nilai berkisar Rp 11 miliar setahun. Yang
berkembang pun sebatas industri rumahan yang berbasis tanaman pangan.
Masalah
keamanan memang menjadi momok yang menakutkan investor atau pengusaha
membuka usaha di sini. Namun, menjelang status darurat militer di NAD
dicabut, pemerintah kabupaten bisa berbenah mempersiapkan infrastruktur
pendukung yang menyangkut jaringan jalan, listrik, dan komunikasi
melalui telepon.
Ada
sejumlah potensi perikanan darat, perkebunan, dan subsektor pertanian
lainnya yang dilihat memberi sentuhan langsung pada masyarakat bila
dikembangkan dengan sistem modern. Perikanan darat bagi kawasan pesisir
boleh dikatakan selama ini belum dilakukan dengan baik, kecuali pada
beberapa lokasi secara tradisional oleh masyarakat. Begitu juga
perkebunan dan subsektor pertanian lainnya. Sentuhan modal yang memadai
diharapkan mampu menggerakkan potensi tersebut.
Buktinya,
kawasan Patek di sana mampu berkembang dan menghasilkan kopi serta
jeruk manakala dikembangkan untuk program transmigrasi. Pengembangan itu
tentu saja membutuhkan modal bagi petani, atau petani dilibatkan
langsung dengan sistem penataan modal yang baik. Ketika Patek kemudian
berkembang dan hasil pertaniannya melimpah, konfliklah yang kemudian
membuatnya jadi babak belur. Kondisi keamanan menjadi alasan utama
penyebab itu semuanya.
Jadilah
kemudian jeruk asal Patek yang nyaris tinggal nama. Begitu juga kopi,
kates, ataupun ubi kayu. Kawasan itu berubah menjadi areal yang
menyeramkan manakala konflik muncul dan menyebabkan orang-orang harus
angkat kaki dari sana. Sekali lagi dalam konteks ini, faktor keamanan,
khususnya menyangkut keamanan bagi rakyat, menjadi sangat penting
diperhatikan.
Si Mata Biru di Aceh Jaya
Jika
hanya dilihat dari perawakan dan warna kulit, mereka jelas orang bule.
Tak ada ciri orang Aceh atau bahkan Melayu sekalipun. Bermata biru,
tinggi, dan berkulit putih, adalah ciri umum mereka. Hanya saja mereka
tidak menggunakan bahasa Inggris, kecuali bahasa Aceh dan Indonesia.
Itulah
sosok sebagian penduduk pedalaman Kecamatan Jaya di Kabupaten Aceh
Jaya. Mereka adalah penduduk asli yang konon memiliki "garis darah"
dengan orang-orang Portugis sejak abad ke-15. Di pedalaman sana mereka
hidup dengan tradisi keacehan yang kental.
Tidak
sulit menemukan mereka, apalagi bila mau masuk ke desa-desa. Di Pasar
Patek, pada lintasan Banda Aceh-Meulaboh, misalnya, sosok "bule" itu
dengan mudah ditemukan. Anak-anak yang pergi atau pulang sekolah di
jalan juga di antaranya ada "anak-anak bule". Mereka bergaul dan
bercanda dengan sesama temannya dengan akrab.
Dari
cerita yang berkembang di masyarakat diketahui bahwa mereka berdarah
Portugis. Setidaknya dari garis ayah, sejak abad ke-15 lalu. Kala itu
sebuah kapal Portugis ditaklukkan serdadu Kerajaan Daya, bagian dari
Kerajaan Aceh di perairan Samudra Hindia.
Orang-orang
di kapal tersebut kemudian ditawan oleh kerajaan. Namun, dalam
perkembangan selanjutnya mereka malah masuk Islam dan tetap tinggal di
sana serta kawin dengan penduduk setempat. Jadilah kemudian turunan
mereka berkulit putih dan bermata biru hingga sekarang.
Sosok mereka
bukanlah sebuah misteri karena latar belakang kehadiran mereka yang
jelas. Warna kulit dan profil akibat status perkawinan campuran tidak
menghilangkan ciri khas mereka. Paling tidak mata birunya masih dominan
dan warna kulit putih, meskipun tinggi badan mereka sama dengan penduduk
lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar